“Idealisme tidak mungkin terwujud kalau realitas tidak mendukung. Karena itulah dunia memerlukan orang-orang yang bisa menyatukan idealisme dan realita.” — Soe Hok Gie
SETIAP perubahan besar selalu lahir dari sebuah ide. Sebuah gagasan yang mula-mula hanya berdiam di ruang pikiran, tumbuh menjadi keyakinan, lalu perlahan mencari bentuknya di dunia nyata.
Namun perjalanan dari ide menuju realitas bukanlah jalan lurus yang mudah dilalui. Ia lebih menyerupai pendakian panjang yang menguras tenaga, kesabaran, bahkan keyakinan diri.
Dalam pengalaman banyak orang, sekitar 80 persen energi justru habis pada fase awal: memikirkan, merumuskan, menguji, memperdebatkan, dan mematangkan sebuah ide.
Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun seseorang menghabiskan waktu untuk memastikan bahwa gagasannya memiliki dasar yang kuat dan tujuan yang jelas.
Menariknya, fase ini sering kali tidak terlihat. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penghargaan. Tidak ada hasil yang bisa dipamerkan. Yang ada hanyalah pergulatan sunyi antara harapan dan keraguan.
Sekilas, bagian yang tersisa—sekitar 20 persen—terlihat jauh lebih ringan. Bukankah ide sudah matang? Bukankah peta jalan sudah tersedia? Bukankah semua risiko sudah diperhitungkan?
Di sinilah ilusi terbesar sering muncul. Justru pada tahap akhir inilah tantangan sesungguhnya dimulai. Sebab mewujudkan ide ke dalam realitas berarti berhadapan dengan dunia yang tidak selalu tunduk pada logika dan perencanaan.
Di atas kertas, semua mungkin tampak sederhana. Namun di lapangan, selalu ada variabel yang tidak terduga. Bisa saja karena keterbatasan sumber daya, resistensi lingkungan, perubahan situasi, konflik kepentingan, hingga kelelahan yang perlahan menggerus semangat.
Banyak orang mampu melahirkan ide cemerlang. Tidak sedikit pula yang berhasil menyusun konsep yang nyaris sempurna. Namun hanya sebagian kecil yang mampu membawa ide tersebut menyeberangi jurang antara konsep dan kenyataan.
Alasannya sederhana. Karena energi yang tersisa sering kali tidak lagi sebesar ketika perjalanan dimulai.
Setelah menghabiskan sebagian besar tenaga untuk berpikir, menganalisis, dan merancang, seseorang memasuki fase implementasi dalam kondisi yang tidak lagi prima. Energi fisik menurun. Antusiasme mulai berkurang. Kesabaran teruji. Pada saat yang sama, tekanan eksternal justru semakin besar.
Sebagian menyerah karena tidak mampu mengelola sumber daya internalnya. Mereka kehilangan disiplin, fokus, atau ketahanan mental ketika hambatan mulai berdatangan. Sebagian lainnya tergoda oleh berbagai distraksi yang menawarkan jalan yang lebih mudah, lebih cepat, atau lebih menguntungkan dalam jangka pendek.
Padahal, keberhasilan sering kali hanya berjarak beberapa langkah dari titik ketika seseorang memilih berhenti.
Inilah mengapa banyak gagasan besar akhirnya hanya menjadi catatan dalam proposal, dokumen perencanaan, atau diskusi panjang di ruang rapat. Bukan karena ide itu buruk, melainkan karena tidak cukup banyak energi yang tersisa untuk menuntaskannya menjadi kenyataan.
***
Soe Hok Gie pernah mengingatkan bahwa dunia membutuhkan orang-orang yang mampu menyatukan idealisme dan realitas. Kalimat itu sesungguhnya mengandung pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar kompromi antara cita-cita dan kenyataan.
Menyatukan idealisme dan realitas berarti memiliki keberanian untuk tetap memegang tujuan besar, sambil menerima bahwa jalan menuju tujuan itu penuh keterbatasan. Ia menuntut kemampuan berpikir visioner sekaligus bekerja secara praktis. Mampu bermimpi setinggi langit, tetapi juga bersedia menapak tanah setiap hari.
Idealisme tanpa realisasi hanya akan menjadi romantisme intelektual. Sebaliknya, realitas tanpa idealisme hanya akan melahirkan pragmatisme yang kehilangan arah.
Karena itu, ukuran sejati dari sebuah gagasan bukanlah seberapa hebat ia terdengar ketika diucapkan, melainkan seberapa jauh ia mampu bertahan melewati ujian implementasi.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya ditulis oleh para pemikir yang melahirkan ide besar. Sejarah juga dibentuk oleh mereka yang sanggup menjaga nyala semangat ketika tenaga hampir habis, yang tetap melangkah ketika jalan terasa berat, dan yang memilih bertahan ketika banyak orang memutuskan berhenti.
Sebab di antara idealisme dan realitas terdapat sebuah jembatan yang tidak dibangun oleh kecerdasan semata, melainkan oleh ketekunan, konsistensi, dan daya tahan.
Dan sering kali, kemenangan terbesar bukanlah karena menemukan ide yang luar biasa, melainkan memiliki cukup keberanian untuk menuntaskannya hingga menjadi kenyataan. []
Makassar, 22 Mei 2026
Asri Tadda
(Ketua DPW Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan)
